Bapak Wahyudi Christiono
“HIDUP YANG LIMPAH DENGAN SYUKUR”
PENDAHULUAN
Dulu pertamakali melihat, banyak yang menyebut sebagai adiknya Pak Pdt Efrayim, sayapun sempat percaya, tapi ternyata antara Pak Wahyudi dan Pak Pdt Efrayim tidak ada kaitan saudara sama sekali, hanya karena kemiripan wajah dan fisiknya saja. Ya benar juga sangat mirip. Bagi yang ingin mengenalnya lebih dekat tentang Pak Wahyudi mari kita simak profilnya.
ASAL DAN PENDIDIKANNYA
Lahir di Purbalingga, tanggal 27 Juni 1969 dengan nama lengkap Wahyudi Christiono. Oleh teman-teman sekolah biasa dipanggil Yudi meskipun keluarga biasa memanggilnya dengan sebutan Kris. Yudi merupakan anak ke 5 dari 6 bersaudara putra dari pasangan Bapak Sapto Prasodjo yang berasal dari Purwokerto dan Ibu Sumiarsih yang asli dari Karanganyar Solo.
Masa sekolah diselesaikannya di Purbalingga mulai SD di SD Negeri Bukateja I lulus tahun 1983, SMP Negeri Bukateja 1 lulus Tahun 1986 dan SMA Santo Agustinus Purbalingga lulus tahun 1989. Baru selepas SMA Yudi pindah ke Surakarta untuk kuliah di Akademi Analis Kesehatan Surakarta “Setia Budi” dan lulus tahun 1992.
Pak Wahyudi tentu sangat bersyukur karena selepas kuliah bisa diterima dan bekerja di Instalasi Laboratorium RS Panti Wilasa Citarum Semarang mulai April 1993 sampai dengan sekarang. Sambil bekerja Pak Yudi juga sempat melanjutkan studinya di Universitas Diponegoro Fakultas Kesehatan Masyarakat dan lulus Tahun 2005. Sampai saat ini sudah 32 tahun Pak Yudi mengabdikan dirinya bekerja di RS Panti Wilasa Citarum dan dipercaya menjadi Kepala Ruang Instalasi Laboratorium. RS Panti Wilasa Citarum merupakan tempat yang nyaman untuk bekerja, terasa seperti berada di lingkungan rumah sendiri, begitu ucapnya.
SELALU BERSYUKUR DALAM HIDUP
Pak Yudi juga bersyukur karena dilahirkan dalam keluarga yang sudah percaya Tuhan Yesus sehingga sejak bayi mungil beliau sudah dibaptis dan dididik secara kristiani oleh kedua orang tuanya. Yudi kecil selalu rajin sekolah Minggu dan Ibunya selalu mengajarkan untuk jangan pernah lupa untuk memberikan persembahan kepada Tuhan, dan hal tersebut selalu diingat dan dilakukannya sampai sekarang.
Sejak kecil sampai tahun 1989 Pak Yudi bergereja di GKJ Purbalingga pepanthan Bukateja, saat kuliah menjadi warga titipan GKJ Bibis Luhur Solo (1989-1992) dan ketika mulai bekerja di Semarang menjadi warga tamu GKJ Semarang Barat (1993-1996) serta menjadi warga titipan GKJ Kabluk Semarang (1996-2006). Baru pada tahun 2006 Pak Yudi menjadi warga gereja GKJ Kabluk Semarang dan masuk sebagai warga Blok H sampai dengan saat ini.
BERTEMU PASANGAN DI KAMPUS YANG SAMA
Saat kuliah di solo, Pak Yudi bertemu dengan seorang gadis satu kampus, tetapi beda jurusan (gadis tersebut jurusan Farmasi) yang sangat menarik hatinya. Namanya Sri Widodo Setyaningsih atau biasa dipanggil Wiwied. Menurut Pak Yudi, Mbak Wiwied benar-benar sesuai dengan kriteria gadis idamannya yaitu cantik, putih, kalem, suka menolong, dan yang paling penting mau diajak persekutuan dan ke Gereja. Waktu itu mbak Wiwied belum mengenal Tuhan Yesus, karena berasal dari keluarga muslim. Namun karena sama-sama cinta akhirnya mereka berpacaran dan pada tanggal 26 April 1997 mereka menikah dengan pemberkatan nikah di GKJ Wonogiri Utara pepanthan Gemantar. Pak Yudi benar-benar bersyukur karena dianugerahi istri yang sangat baik, keibuan dan penuh kasih. Tidak lama kemudian mereka dikaruniai seorang putri yang cantik bernama Christya Agustina Widianingrum atau akrab dipanggil Risty. Lengkap sudah kebahagian Pak Wahyudi beserta keluarganya.
Dalam menjalani hidup ini Pak Yudi punya prinsip meskipun hidup sederhana, tetap menjunjung tinggi nilai kejujuran dan harus selalu berpikir positif menghadapi segala kesulitan hidup karena yakin bahwa Tuhan selalu menolong dan menyertai.
Pengalaman yang sangat berkesan dalam hidupnya adalah ketika ditinggal oleh bapak tercinta. Saat itu Yudi masih remaja, SMP kelas 2, sempat kehilangan figur seorang ayah. Namun lagi-lagi bersyukur karena Ibu dan kakak, sebagai pengganti Bapak, selalu mengarahkan, mendidik dan mencukupi kebutuhan sekolah sampai kuliah. Dan yang utama adalah selalu mengingatkan untuk menjaga iman kepada Tuhan Yesus dengan “Maos Kitab Suci” setiap malam Minggu. Saat jauhpun selalu diingatkan sudah ke gereja atau belum. “Kedekatan emosional keluarga ini menjadi sangat penting dalam perjalanan hidup saya” demikian ungkap Pak Yudi. Beliau menegaskan bahwa setiap hari adalah anugerah Tuhan.
SUKA DUKA MENGIKUT YESUS
Ketika ditanya apa suka dukanya mengikuti Yesus, Pak Yudi menjelaskan sukanya karena ada Kasih yang tidak tergantikan di dalam Tuhan Yesus, pengampunan dan keselamatan yang pasti. Sedang Dukanya banyak tantangan menjadi Kristen, masih banyak orang yang “alergi dan takut terhadap Kekristenan, di lingkungan sekitar, bahkan kerabat dekat ada yang mengucilkan dan memperlakukan tidak baik. Tetapi semua tantangan itu, tetap dianggap sebagai anugerah Tuhan karena saya tahu kepada siapa saya percaya, Tuhan akan selalu memberikan penghiburan, pertolongan dan penyertaan dalam segala keadaan.
KOMITMEN MELAYANI TUHAN
Meskipun bekerja seharian di RS Pak Yudi juga mendedikasikan hidupnya untuk melayani Tuhan sebagai Majelis di GKJ Kabluk. Saat ini Pak Yudi diberi tugas sebagai Wakil Ketua Bidang (Wakabid) Kespel yang mengelola bidang Kesaksian dan pelayanan. Memang harus berkorban waktu dan tenaga tapi itu tidak sebanding dengan pengorbanan Tuhan Yesus bagi hidup saya. Di lingkungan tempat tinggalnya Pak Yudi juga aktif ikut dalam berbagai kegiatan. Saya bersyukur karena Tuhan telah memberi kepada saya pekerjaan yang layak dan keluarga yang percaya kepada Tuhan Yesus. Itu merupakan doa dan harapan saya sejak dulu. Saya masih tetap berdoa dan berharap kiranya Tuhan jadikan saya sebagai pribadi yang lebih baik dan bisa menjadi berkat bagi sesama. Itulah sebabnya Pak Yudi tidak pernah berkeluh kesah atas apapun yang harus ia lakukan untuk Tuhan dan gereja.
HARAPAN UNTUK GKJ KABLUK DAN WARGANYA
Pak Yudi juga sangat bersyukur menjadi warga GKJ Kabluk dan berharap agar Gereja menjadi tempat yang nyaman dan aman bagi umat untuk beribadah, sebagai satu keluarga yang saling menopang satu dengan yang lain di dalam kasih Tuhan.
Kepada Warga gereja yang sudah sepuh beliau mengajak “sampai masa tua kiranya tetap menjadi berkat, mendukung dan mendoakan generasi muda GKJ Kabluk, agar menjadi teladan iman dan memberikan warisan iman di dalam Tuhan Yesus Kristus”. Sedang kepada generasi muda beliau berpesan agar “Keep On The Track, tetap menjadi anak Tuhan yang baik, hormat dan takut akan Tuhan. Tidak terkikis jaman, tetap menunjukkan identitas sebagai pemuda Gereja Kristen Jawa yang beretika tinggi dimanapun berada”. Wah mantap sekali nasehatnya karena beliaupun selalu memberikan contoh bagaimana menjadi orang yang rendah hati dan hormat kepada sesamanya.
PENUTUP
Demikian sekilas profil Pak Wahyudi Christiono, banyak prinsip hidupnya yang menginspirasi kita menjadi pribadi yang menyenangkan Tuhan dan sesama. Terimakasih Pak Yudi yang sudah melayani Tuhan dengan sepenuh hati. Tuhan memberkati dan selalu memakai untuk menjadi abdinya yang setia.