Kebangkitan-Nya: Harapan bagi Semua

Penulis: Diana Kartika K.

Kebangkitan Kristus bukan sekadar narasi teologis yang diulang-ulang setiap tahun tetapi sebuah proklamasi kemenangan atas maut, keputusasaan, dan belenggu dosa. Oleh karena itu, merupakan fondasi dari segala optimisme yang kita miliki. Melalui kebangkitan mengajarkan bahwa titik terendah dalam hidup bukanlah akhir dari cerita, melainkan latar belakang bagi kemuliaan Tuhan yang akan dinyatakan.

Kebangkitan memberi perspektif bahwa: 1) Penderitaan bersifat sementara, tetapi kemuliaan yang disediakan-Nya kekal; 2) Kegagalan bukan identitas, melainkan kesempatan untuk pemulihan; dan 3) Kematian bukanlah titik, melainkan koma menuju kehidupan yang lebih indah.

Hal itu berdampak terhadap jiwa manusia bahwa: 1) Ada kepastian akan masa depan yang di tangan Sang Hidup; 2) Terpanggil menjadi agen perubahan bukan sekedar penonton yang pasif; dan 3) Kuasa kebangkitan memampukan kita melepaskan pengampunan bagi masa lalu yang kelam dan membangun jembatan rekonsiliasi. Dengan demikian memiliki kepastian hidup yang berharga dan tujuan yang kekal.

Paskah: Dari “Aku” Menjadi “Kita”

Sering kali kita terjebak memaknai Paskah secara individualistis, bahwa “saya” diselamatkan, “saya” memiliki hidup kekal. Tentu itu benar, namun kebangkitan Yesus memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Ketika Yesus bangkit, orang-orang pertama yang Ia temui adalah mereka yang sedang berduka, ketakutan, dan kehilangan arah. Ia tidak bangkit untuk memamerkan kuasa-Nya kepada para penguasa Romawi, melainkan untuk memulihkan harapan para nelayan dan perempuan yang terpinggirkan.

Esensi Paskah bagi kita adalah kebangkitan-Nya memanggil kita untuk keluar dari “kubur” kenyamanan diri sendiri. Ada banyak orang di sekitar kita yang sedang mengalami “kematian”. Misalnya: mati semangat karena kehilangan pekerjaan, mati harapan karena penyakit yang tak kunjung sembuh, atau mati rasa karena kesepian yang mendalam atau merasa terpinggirkan.

Jika ”individualistis atau ego saya” telah mengalami kuasa kebangkitan-Nya maka berubah menjadi ”kita” yang terpanggil menjadi agen pengharapan bagi sesama. Seperti yang tertulis dalam 1 Petrus 1:3: “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan.”

Harapan ini bukan sekadar wishful thinking atau angan-angan kosong. Ini adalah harapan yang hidup (living hope) yang wajib dibagikan. Hidup yang penuh pengharapan ini adalah hidup yang aktif. Hal ini bisa dimulai dari paling sederhana melalui sepatah kata penyemangat bagi teman yang depresi, menghibur yang berduka, memberi makan yang lapar, merangkul yang terpinggirkan, memberikan senyuman kepada mereka yang sedang putus asa, tindakan kasih tanpa pamrih kepada tetangga yang berbeda keyakinan, atau sekadar kesediaan untuk mendengarkan tanpa menghakimi.
Saat kita berbagi, kita sebenarnya sedang menggulingkan batu-batu penutup kubur dalam hidup orang lain. Harapan bagi semua hanya akan menjadi nyata jika mereka yang merayakan Paskah bersedia menjadi saluran kasih tersebut.

Menjadi “Alat” Kebangkitan di Tengah Masyarakat

Menjadi “alat” kebangkitan di tengah sesama tidak menuntut kita untuk menjadi sempurna atau melakukan hal-hal yang spektakuler. Sering kali, itu hanya berarti mau hadir dengan hati yang penuh belas kasihan. Bagaimana cara kita menghidupi semangat “Kebangkitan-Nya, Harapan bagi Semua” di tengah keseharian yang sibuk?

1. Menyerahkan Diri sebagai “Alat” Kebenaran

Untuk bisa membangkitkan semangat orang lain, hidup kita sendiri harus terlebih dahulu dimerdekakan dan dipimpin oleh Roh Kudus. Rasul Paulus memberikan analogi yang sangat kuat dalam suratnya kepada jemaat di Roma:
“Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.” — Roma 6:13

Kata “senjata” di sini dalam beberapa terjemahan lain juga berarti instrument atau alat. Ketika kita berhenti menggunakan hidup keegoisan dan mulai menyerahkannya kepada Tuhan maka siap dipakai untuk menghidupkan harapan sesama.

2. Mengenakan Belas Kasihan yang Lembut
Sebelum melangkah untuk menolong orang lain mari lihat hati yang dipenuhi oleh kasih Tuhan terlebih dahulu. Ketika kita memandang sesama dengan kacamata kasih maka tidak akan menghakimi keterpurukan mereka tetapi akan timbul merasakan apa yang mereka rasakan.
“Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.” — Kolose 3:12
Bayangkan betapa indahnya jika kita menjadi orang yang pertama kali memberikan senyuman tulus kepada rekan kerja yang sedang stres, atau menjadi pendengar yang sabar bagi sahabat yang sedang patah hati. Dengan mengenakan belas kasihan maka terjadi aliran kehidupan ke dalam hati mereka yang sedang redup

3. Membawa Beban Bersama
Menjadi alat kekebangkitan tidak selalu berarti melakukan mukjizat besar. Seringkali, itu berarti hadir dan bersedia mendengarkan. Kebangkitan bagi seseorang yang sedang terpuruk bisa dimulai dari sebuah pelukan hangat, sepiring makanan, atau kesediaan kita untuk membagi beban mereka.
“Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” — Galatia 6:2
Saat membantu meringankan beban sesama maka secara langsung sedang membangkitkan kembali iman mereka yang sempat goyah kepada kasih Tuhan. Keadaan ini menjadi bukti nyata bahwa Tuhan tidak meninggalkan mereka.

4. Menjadi Terang yang Menghalau Kegelapan
Dunia ini bisa menjadi tempat yang sangat dingin dan gelap. Keputusasaan adalah “kubur” modern yang mengurung banyak orang. Tugas kita adalah membawa terang kebangkitan itu masuk ke dalam kegelapan mereka.
“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” — Matius 5:16

Senyuman yang tulus, kejujuran dalam bekerja, serta pengampunan yang kita berikan kepada orang yang bersalah kepada kita adalah bentuk-bentuk nyata dari terang.

Kebangkitan Kristus adalah bukti bahwa kasih lebih kuat dari maut. Jika maut saja bisa dikalahkan, maka tidak ada beban hidup yang terlalu berat jika kita pikul bersama-sama dalam kasih-Nya.
Momentum Paskah tahun ini menjadi titik balik untuk lebih peka terhadap tangisan di sekitar kita. Berbagi harapan dan kasih yang menjadikan hidup kita sebagai “Alkitab yang terbuka”, yang dapat dibaca oleh semua orang melalui perbuatan kasih kita. Pesan terbesar Paskah bukanlah tentang kubur yang kosong, melainkan tentang hati kita yang dipenuhi oleh kasih Kristus yang meluap untuk merangkul sesama.

”Selamat merayakan kebangkitan-Nya.
Jadilah pembawa harapan bagi dunia!”