Iman Yang Lentur

(2 Korintus 4:8-9)

Ketika berbicara tentang iman dan tantangan, pikiran kita acapkali langsung tertuju pada hal-hal yang berasal dari luar diri orang percaya, yang menghalangi, mengganggu, dan menghambat perjalanan iman. Tentu hal ini tidak salah, karena sejak jaman Alkitab, tantangan dari luar begitu sering menghantam kehidupan orang beriman. Tantangan dari luar yang begitu hebat memang bisa meruntuhkan iman, maka diperlukanlah iman yang kuat untuk menghadapinya. Namun, iman dan tantangan ternyata tidak hanya berbicara tentang hal-hal eksternal. Tantangan internal, yang muncul dari dalam pikiran dan hati orang beriman sendiri, juga sering menggerogoti iman itu sendiri. Hal ini berkaitan dengan keinginan dan ekspektasi pribadi, yang sering dibalut dengan bahasa yang berkesan rohani seperti “pengharapan”. Tanpa olah iman yang tepat, pengharapan seolah menjadi alat uji untuk memandang Tuhan. Jika yang mewujud sesuai keadaan, iman dipandang “bertumbuh”. Sedang jika sebaliknya, tidak jarang kebaikan Tuhan dipertanyakan, yang jika tidak dikelola dengan baik berpotensi mengikis iman.

Paulus, dalam suratnya yang kedua kepada jemaat Korintus, menyadari bahwa tantangan dari dalam dan dari luar begitu nyata. Sebagian orang Korintus menolak pelayanan Paulus karena memandang hidupnya penuh dengan penderitaan. Anggapan bahwa utusan Tuhan seharusnya tampil kuat, tangguh, dan sempurna membuat sosok Paulus dipandang sebelah mata. Paulus menyadari tantangan dari luar ini bisa mempengaruhi pikiran dan hatinya dalam memandang panggilan Tuhan. Maka ia berolah iman dengan memandang diri dan pelayanannya sebagai “harta dalam bejana tanah liat”. Ia menemukan kesejatian iman dalam kerapuhan dan kekurangannya, sehingga di tengah segala tantangan, internal dirinya tidak menjadi rapuh. Ayat 8-9 menjadi deklarasi kelenturan imannya dalam menghadapi tantangan. Inilah sikap yang tepat untuk untuk mengelola diri di tengah tantangan.

Pohon bambu terkenal dengan kelenturannya sehingga tidak mudah patah saat terkena angin dan hujan. Namun tahukah kita, bahwa kelenturan bambu juga menolongnya untuk bertumbuh semakin tinggi tanpa kuatir mengalami keretakan dari dalam diri..? Seperti itulah iman yang lentur. Bukan hanya mampu menghadapi tantangan dari luar, tetapi juga siap menopang saat ada tantangan dari dalam. Di sinilah dibutuhkan olah iman yang tepat sehingga iman kita tidak kaku, namun juga tidak mudah rapuh. Kita memang tidak bisa mengelola hal dari luar, namun seperti Paulus, kita bisa mengelola hal-hal dalam diri kita. Cara pandang, cara berpikir, dan cara mengelola hati yang tepat, disertai olah iman dan olah Firman, akan menjadikan kita memiliki kelenturan untuk menghadapi tantangan. Amin.