“MEWARISKAN IMAN MELALUI KETELADANAN HIDUP”
(2 Timotius 2:2)
“Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.”
Iman adalah warisan yang sangat berharga bagi keluarga Kristen. Harta benda dapat habis dan jabatan dapat berakhir, tetapi iman kepada Tuhan akan menjadi bekal yang berharga bagi generasi berikutnya. Karena itu, iman tidak hanya diwariskan melalui kata-kata dan nasihat, tetapi terutama melalui keteladanan hidup sehari-hari.
Gereja kita kini telah memasuki Bulan Keluarga, sehingga tema ini sangat tepat untuk direnungkan bersama. Keluarga adalah tempat pertama dan utama bagi pertumbuhan iman. Dalam Ulangan 6:6–7, Tuhan memerintahkan agar firman-Nya diajarkan berulang-ulang kepada anak-anak dalam kehidupan sehari-hari. Maka orang tua dipanggil menjadi teladan dalam berdoa, beribadah, berkata jujur, mengasihi sesama, mengampuni, dan bertanggung jawab. Anak-anak tidak hanya mendengarkan nasihat, tetapi juga belajar dari apa yang mereka lihat dalam kehidupan orang tuanya.
Panggilan ini tidak terbatas pada orang tua. Dalam 1 Timotius 4:12, Rasul Paulus menasihati Timotius agar menjadi teladan dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, dan kesucian. Nasihat ini berlaku bagi setiap orang percaya, baik dalam keluarga, gereja, maupun masyarakat. Iman yang hidup terlihat melalui perkataan yang membangun, sikap rendah hati, kejujuran, dan kepedulian kepada sesama.
Namun, mewariskan iman tidak berarti kita harus menjadi manusia yang sempurna. Ketika kita berani mengakui kesalahan, meminta maaf, bertobat, dan memperbaiki diri, kita menunjukkan bahwa hidup kita terus dibentuk oleh firman Tuhan. Keteladanan yang jujur seperti inilah yang paling membekas bagi anak-anak kita.
Keteladanan iman juga harus nyata dalam kehidupan para pemimpin gereja, baik Majelis maupun Pendeta. Sebagai gembala dan pelayan Tuhan, mereka dipanggil bukan hanya untuk mengajarkan kebenaran, tetapi juga untuk menunjukkannya melalui sikap dan perbuatan. Kejujuran dalam berkata, kesungguhan menepati janji, dan keberanian menyampaikan keadaan yang sebenarnya adalah bagian penting dari kesaksian iman. Apa yang telah dijanjikan hendaknya diupayakan dengan penuh tanggung jawab, dan apabila ada kendala, hendaknya disampaikan secara terbuka dan jujur. Sebab, kepercayaan jemaat tidak dibangun oleh kata-kata yang indah, tetapi oleh kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. Gereja akan semakin kuat apabila para pemimpinnya terlebih dahulu menjadi teladan dalam kebenaran, sehingga jemaat tidak hanya mendengar firman Tuhan, tetapi juga melihat firman itu hidup dalam diri para pelayannya.
Karena itu, marilah kita memanfaatkan Bulan Keluarga ini untuk memperkuat iman melalui tindakan nyata. Jangan hanya mengajarkan anak-anak berdoa, tetapi berdoalah bersama mereka; jangan hanya mengajarkan kejujuran, tetapi tunjukkan melalui perbuatan. Dengan demikian, iman tidak berhenti pada satu generasi, melainkan terus diwariskan kepada anak cucu.
Kiranya hidup kita menjadi seperti Alkitab yang terbuka, yang dapat dibaca melalui perkataan, sikap, dan perbuatan kita. Sebab, warisan iman yang paling berharga bukanlah harta yang kita tinggalkan, melainkan teladan hidup yang menolong generasi berikutnya tetap berjalan bersama Tuhan. Amin Tuhan Yesus memberkati kita semua. (Mr. Jack).