MENJADI SUPPORT SYSTEM
Lukas 1:39-45
Manusia memiliki beragam kebutuhan. Yang paling dasar adalah sandang, pangan, dan papan. Abraham Maslow juga merumuskan hierarki kebutuhan manusia dari sisi psikologi. Manusia melakukan pekerjaan dan karya-karya lainnya demi memenuhi kebutuhan tersebut. Namun, hal-hal tersebut lebih banyak memprioritaskan pada kebutuhan diri sendiri. Orang bekerja untuk memenuhi sandang, pangan, dan papan terutama pada dirinya sendiri dahulu, baru ketika itu sudah tercukupi, ada ruang dalam dirinya untuk memikirkan orang lain.
Bacaan renungan kita menceritakan kisah dua orang yang seolah berada dalam kondisi yang sama, namun juga seolah bertolak belakang. Elisabet, seorang yang sudah berumah tangga sekian lama namun tidak juga dikaruniai anak, kemudian mengandung di usia yang sudah lanjut. Maria, seorang yang belum menikah, tiba-tiba hamil oleh karena Roh Kudus. Kedua orang ini memiliki masalahnya masing-masing. Baik Elisabet maupun Maria menjalani kehamilannya bukan saja dengan sukacita, tetapi juga dengan perjuangan. Bukan hanya secara fisik, karena yang satu sudah lanjut dan yang satu masih muda, namun juga percakapan orang-orang yang turut menjadi beban. Di sinilah perjumpaan keduanya menjadi berkat. Mereka menjadi support system satu terhadap yang lain. Kehadiran Maria menjadi berkat bagi Elisabet, sebaliknya Elisabet juga meneguhkan Maria dalam menapaki rancangan Tuhan. Keduanya menjawab kebutuhan untuk diterima, dipahami, dan didukung dalam perjuangan imannya. Inilah kebutuhan yang seringkali tidak terpikirkan. Atau kalaupun terpikirkan, berada pada posisi bukan prioritas dibandingkan dengan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Maria dan Elisabet mengajarkan bahwa dalam saling memenuhi kebutuhan tidak harus menunggu segalanya ideal. Dimulai dari kesediaan untuk memberi diri bagi orang lain.
Di zaman modern ini, ketika hyper-individualism semakin menguat, diri sendiri menjadi fokus yang utama. Manusia cenderung mengejar pemenuhan kebutuhan (dan keinginan) diri sendiri sebelum berbagi dengan orang lain. Keadaan diri harus OK, stabil, aman, dan terjamin, baru (kalau mau) memikirkan orang lain. Kita diajak belajar dari dua perempuan yang sedang tidak ideal, namun mau memberi dan berbagi sebagai wujud dukungan bagi pemenuhan kebutuhan sesama. Maria memikirkan Elisabet, pun Elisabet memikirkan Maria. Akhirnya keduanya dicatat Alkitab sebagai orang-orang yang diberkati oleh Tuhan. Kita, yang mungkin saat ini sedang tidak ideal dari sisi pemenuhan kebutuhan, juga diundang untuk berkarya memenuhi kebutuhan sesama. Menjadi support system bagi orang lain agar kehidupan mereka berjalan dengan baik. Dimulai dari kesediaan untuk berbagi fokus dan prioritas dengan kebutuhan orang lain, dilanjutkan dengan tindakan nyata. Inilah panggilan bagi kita untuk mewujudkan kehidupan bersama yang semakin baik, seturut kehendak Tuhan. Amin. (nn)