MENGAPA MUSA TIDAK MASUK KE TANAH KANAAN
“Engkau boleh melihatnya dari jauh,
tetapi tidak akan masuk ke sana”
(Ulangan 34 : 4)
Alkitab menempatkan Musa sebagai orang yang dipakai Allah dengan luar biasa. Dia membelah laut, bicara tatap muka langsung sengan Allah, (Keluaran 33: 11). Tetapi di ujung hidupnya, Allah berkata: “kamu sampai di sini saja”, sakit dan membuat kecewa? Pasti, tetapi ada maksud Allah yang dalam di balik itu.
Apa yang telah dilakukan Musa, Bilangan 20: 7–12 menjelaskan bahwa di Meriba, bangsa Israel haus dan bersungut lagi. Allah perintahkah kepada Musa”: Bicaralah kepada bukit batu itu, makai akan memberi air”. Perintah ini jelas dan lugas. Tetapi Musa marah, lalu memukul batu dua kali sambil berkata: “Dengarlah, hai orang-orang durhaka” ! Haruskah kami memberi air kepadamu?. Musa memberi respon terhadap perintah Allah dengan sikap yang salah, yaitu marah! Musa sangat emosi sehingga bertindak gegabah. Musa kehilangan kendali, tidak berpegang pada prinsip ketaatan, tetapi hanya berdasar perasaan dan situasi. Hasilnya, air keluar, tetapi Allah berkata “kamu tidak akan membawa bangsa ini masuk“
Makna teologis, mengapa Musa dilarang masuk tanah Kanaan?
Pertama: Kekudusan Allah tidak boleh dianggap remeh. Allah berkata berbicaralah, tetapi Musa memukul bukit batu sampai dua kali, Musa tidak taat kepada perintah Allah. Ia mengandalkan kekuatan sendiri berdasar rasa marah dan jengkel. Musa mewakili Allah dengan salah. Padahal pemimpon rohani, merupakan cermin bening sebagai teladan ketaatan, satu kesalahan di mimbar bisa menyesatkan ratusan bahkan ribuan orang yang mendengarkannya. Pelajaran yang bisa kita terima adalah “semakin besar urapan, semakin tinggi standar kekudusan, Allah tidak main-main dengan perintah-Nya”.
Kedua: Kanaan bukan hadir untuk kehebatankemanusia. Kalau Musa masuk Kanaan, orang Israel akan mengatakan, “Karena Musa hebat, kita masuk ke Kanaan”. Tanah perjanjian menjadi “monument Musa, bukan monument Allah”. Allah memilih Yosua, generasi baru, pemimpin tanpa bayang-bayang Musa, Supaya jelas yang membawa masuk orang Israel ke Kanaan bukan Musa, tetapi Allah, (Yosua 1:5). Pelajaran yang bisa kita terima: Allah rela mengganti hamba-Nya, supaya kemuliaan tidak di curi manusia.
Ketiga: Ada puncak yang lebih tinggi dari Kanaan. Musa tidak masuk Kanaan duniawi, tapi Dia masuk Kanaan surgawi (Ulangan 34: 5–6 ). “Musa mati ditanah Moab, gunug Nebo (meskipun tidak diketemukan jasadnya). 700 tahun kemudian, Musa muncul bersama Yesus di Gunung kemuliaan, (Matius 7:3). Musa melihat Kanaan sejati, yaitu Kerajaan Allah. Pelajaran yang bisa kita terima: Kadang Allah tahan kita di ” Kanaan kecil “, supaya kita masuk di ” Kanaan besar ” bersama Dia.
Inspirasi Kita dari refleksi ini. Pertama: Ketaatan sekecil apapun itu penting. Kesalahan Musa kelihatan kecil, memukul batu. Tapi ia melanggar perintah spesifik Allah. Ketaatan adalah melakukan persisi yang Allah Kehendaki bukan dengan cara dan kehendak kita. Kedua: kerja keras tidak sia-sia, walau kita tidak menikmati hasilnya. Musa selama 40 tahun memimpin bangsa Israel, tetapi tidak menginjak tanah Kanaan. Tapi tanpa Musa tidak akan ada Kanaan untuk Yosua. Permenungan bagi kita. Mungkin sebagai orang tua, pendeta, majelis, guru yang menabur tapi tidak menuai. Tapi ingat, kita menjadi Musa bagi keluarga, anak-anak dan generasi baru. Tabur terus, Allah catat semuanya, (Galatia 6:9). Kedua. Allah memiliki rencana terbaik dari rencana kita. Mimpi Musa mati di Kanaan. Tapi rencana Allah, Musa dikenang selama 3500 tahun dan dia ketemu Yesus secara langsung. Permenungan kita bersama: Saat pintu “Kanaanmu ditutup”, jangan sedih dan sakit hati. Allah sedang mengantar kita kepada kemuliaan “Percayalah kebenaran ini, rencana Allah selalu lebih baik dan lebih tinggi”.
(Yesaya 55 :9). Yo_61