Persiapan Diri
Lukas 21:36
Banyak orang memiliki kecerdasan dalam mempersiapkan diri menghadapi segala sesuatu yang bisa terjadi di hari depannya di bumi ini. Sesuatu yang bisa terjadi tersebut mungkin adalah bencana alam, kecelakaan saat berkendara, kebakaran rumah, sakit tubuh, kehilangan barang karena dicuri atau dirampok, kebutuhan uang anak-anak sekolah dan lain sebagainya. Itulah sebabnya mereka mengasuransikan jiwa, kesehatan dan segala sesuatu kepada agen-agen asuransi yang bisa menjamin, memberi bantuan dan topangan bila hal-hal tersebut terjadi. Dengan mengasuransikan jiwa, kesehatan dan segala sesuatu tersebut, seseorang merasa aman, hatinya lebih tenang. Asuransi dipandang seperti tangan kuat yang bisa menopang hidup mereka. Tentu tidak salah mengasuransikan diri, harta dan lain sebagainya kepada perusahaan asuransi. Hal ini merupakan bagian dari tanggung jawab atas keadaan hidup yang serba tidak menentu. Segala sesuatu bisa berubah setiap saat diluar dugaan, prediksi, perhitungan dan kekuatan manusia. Inilah dunia yang sudah jatuh, dunia yang tidak akan pernah dapat memberi ketenangan hidup.
Kalau untuk hal-hal yang tidak pasti seseorang bersedia mengasuransikan jiwa, kesehatan dan segala sesuatu, artinya bersikap berjaga-jaga sebagai antisipasinya. Mengapa untuk satu hal yang pasti terjadi yaitu “kematian” dan dibalik kematian ada penghakiman, seseorang tidak mempersoalkannya dengan serius dengan mempersiapkan diri dengan lebih serius? Penghakiman terakhir nanti menentukan apakah seseorang diperkenankan masuk ke kemuliaan kekal, yaitu Kerajaan Sorga atau terbuang masuk kehinaan kekal yaitu terbuang dari hadirat Allah selamanya ke dalam api neraka kekal. Dalam Lukas 21:36 Yesus menyatakan “Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu memperoleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak manusia.” Maksud “berdiri” di hadapan Anak Manusia sebagai hakim adalah bila mempertanggungjawabkan segala yang dilakukan selama hidup di bumi ini, yaitu mengisi kehidupan sesuai dengan maksud Allah yang memberi kehidupan. Hal mana ini sama artinya dengan memenuhi panggilan sebagai orang percaya atau anak tebusan Tuhan Yesus. Panggilan tersebut adalah menjadi anak-anak Allah. Itulah sebabnya orang percaya harus mempersiapkan diri menghadapi tahta pengadilan Tuhan.
Dengan berproses pembentukkan diri untuk memiliki kekudusan seperti Allah dan keserupaan dengan Yesus serta menyelesaikan pekerjaan yang Allah berikan sebagai tanggung jawab masing-masing individu. Tuhan Yesus memberkati. Haleluya, Amin. (ESS)