Memulai Dari Hal Kecil
Matius 13:31-33,44-52
Sesuatu yang besar selalu dimulai dari hal yang kecil. Sebagai contoh, apabila kita melihat rumah yang besar dengan lantai yang bertingkat-tingkat, itu selalu dibangun dari bagian yang paling bawah dan kecil, yakni fondasi. Demikian pula jika kita mendamaikan sesuatu yang besar, misalnya kedamaian dalam kehidupan kita, itu akan dimulai dari sesuatu dari yang kecil, misalnya bagaimana kita bersyukur dengan kehidupan kita. Hal kecil sering kali disepelekan dan diabaikan. Namun demikian, hal kecil adalah dasar dari sesuatu yang besar. Perenungan kita Minggu ini akan menghantar kita untuk menghadirkan Kerajaan Allah dimulai dengan tindakan kecil yang bisa kita lakukan.
Yesus memakai perumpamaan biji sesawi, ragi, harta terpendam, mutiara, dan pukat untuk menyampaikan pesan-pesan. Jangan membayangkan sesawi dalam Alkitab sama dengan sayuran sawi yang ada di sekitar kita. Tanaman sesawi di Palestina adalah sebuah pohon berakar dan berbatang, dan ketinggiannya bisa mencapai 4 meter lebih. Pohon yang besar itu berawal dari biji sesawi yang kecil. Biji sesawi memang sesungguhnya bukan biji yang paling kecil, namun ada biji cemara (cypress) yang lebih kecil. Namun demikian biji sesawi lazim digunakan untuk menjadi gambaran sesuatu yang sangat kecil. Ketika Yesus berkata bahwa Kerajaan Surga yang diumpamakan seperti biji sesawi, maknanya jelas, bahwa Kerajaan Surga bermula dari sesuatu yang kecil.
Selanjutnya Yesus memakai gambaran ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sebanyak empat puluh liter. Dalam tradisi Yahudi sebenarnya ragi dikaitkan dengan sesuatu yang buruk. Orang Yahudi menghubungkan fermentasi sebagai sebuah proses pembusukan. Pembusukan itu terjadi oleh karena ragi. Maka ragi adalah sesuatu yang buruk yang dapat merusak. Itulah sebabnya menjelang Paskah orang Yahudi akan mencari sisa-sisa ragi dan membuangnya dari rumah, lalu membakarnya. Melihat pemahaman dan kenyataan tersebut, sangat mungkin bahwa Yesus secara sengaja memakai ragi dalam perumpamaan tentang Kerajaan Surga, hal ini dilakukan untuk membuat keterkejutan dan menaruh minat pada ajaran Yesus. Pesannya sekali lagi adalah tentang hal kecil yang berdampak besar. Ragi dapat membuat adonan tepung mengembang. Hal kecil dapat mentransformasi dan menghantar pada Kerajaan Surga.
Gambaran selanjutnya adalah tentang harta terpendam dan tentang jala di laut. Gambaran ini kembali membawa pada pemahaman bahwa Kerajaan Surga adalah sesuatu yang besar dan berharga. Hal yang harus diupayakan dan tidak datang dengan sendirinya. Dengan melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar, benih itu akan menjadi Kerajaan Surga yang mentransformasi.
Teka-teki selanjutnya yang menjadi bagian panjang perumpamaan Yesus sejak Matius 13:24-52 adalah Kerajaan Surga. Apa yang dimaksud dengan Kerajaan Surga menurut penulis Injil Matius? Mendengar kata Kerajaan Surga pikiran kita akan langsung berlari kepada sebuah tempat yang ada di sana dan disediakan bagi kita setelah kita mengalami kematian. Pendapat tersebut tidak sepenuhnya salah, namun yang dimaksudkan dalam Injil Matius mengenai Kerajaan Surga tidak hanya demikian. Sejak Matius 6:10 penulis sudah menulis tentang surga yang dimaksud. Bahwa Kerajaan Surga bukan hanya tentang di sana dan nanti, namun juga tentang di sini dan kini. Kerajaan Surga bukan sesuatu yang dinanti di masa akan datang, namun perlu diupayakan di masa kini. Melalui tindakan kecil dan berdampak besar akan menghadirkan Kerajaan Surga di sini dan kini.
Mari kita mengupayakan hadirnya Kerajaan Allah dengan hal-hal kecil di sekitar kita. Memberikan kepedulian kepada orang terdekat. Memberikan senyuman dan perhatian kepada orang yang mengalami keletihan. Membantu orang yang berkekurangan dengan apa yang mampu kita lakukan. Hal kecil jika dilakukan dengan kasih yang besar, akan memiliki dampak yang besar pula. Amin.