DOMBA KRISTUS YANG SEJATI
Matius 25:31-46
Sebagian dari kita mungkin sudah akrab dengan lagu yang berjudul “Sudahkah Yang Terbaik Kuberikan?”. Lagu dari NKB 199 ini memang unik karena menggugah pemikiran mengenai karya manusia bagi sesama atas nama Kristus. Ada begitu banyak pujian yang mengangkat tema relasi antara manusia dengan Tuhan. Di dalamnya terkandung narasi pemberian dan janji Tuhan kepada manusia. Ya, Tuhan sudah memberi begitu banyak kepada manusia, bahkan sampai nyawa-Nya pun dikorbankan bagi keselamatan kita. Kita sudah dipenuhi dengan kebaikan-kebaikan. Maka bukankah juga sudah sepatutnya kita diajak berefleksi, bagaimana kita menjalani hidup dalam anugerah Tuhan tersebut..?
Iman kepada Tuhan adalah hal yang utama dalam konteks keselamatan. Namun ketika kita melihat Matius 25, khususnya ayat 31-46 yang menjadi bahan perenungan kita ini, iman tidak bisa diartikan kita tahu tentang Tuhan dan titik. Pengibaratan kambing dan domba tidak serta merta merujuk kepada pembedaan “orang percaya” dan “orang tidak percaya”. Dua sisi ini sama-sama tahu tentang Tuhan, tetapi yang membedakan adalah tindakan sebagai buah pengetahuan akan Tuhan. Sisi domba tahu akan Tuhan dan mewujudkan dalam karya layan kepada sesama, sedangkan sisi kambing tidak melakukannya. Di sinilah pertanyaan dari NKB 199 menjadi relevan. Apakah kita sudah memberikan yang terbaik bagi Tuhan..?
Persekutuan orang beriman, yang kemudian kita kenal sebagai Gereja, sejak awal memang didesain sebagai ruang untung memberi. Sejak jaman Gereja mula-mula, persekutuan saling memberi menjadi spirit dasar Gereja. Gereja bukanlah ruang transaksional antara “pelayan Gereja” dan “umat”. Gereja adalah ruang bagi seluruh umat (termasuk para pelayan Gereja, yang sejatinya juga adalah bagian dari umat) mewujudkan bakti dan syukurnya kepada Tuhan Sang Penyelamat dan Sang Pemelihara. Segala bentuk persembahan, baik daya, dana, maupun pemikiran, hendaknya dilandaskan pada kesadaran bahwa Tuhan sudah terlebih dahulu memberi bagi manusia dan umat diundang untuk mewujudkan imannya dalam bentuk karyalayan, khususnya melalui Gereja. Maka, ketika kita menghayati Tuhan adalah Gembala yang Sejati, yang sudah memberikan segalanya bagi keselamatan kita, marilah kita juga berjuang menjadi Domba yang Sejati, yang melakukan panggilan Sang Gembala untuk menghadirkan kebaikan bagi semesta. Tuhan memberkati. Salam.