BERAGAMA TANPA BERTUHAN

“Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku” (Matius 15:8 TB ). “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku, Tuhan, Tuhan akan masuk dalam kerajaan sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang disorga” (Matius 7: 21).

A. Pengantar Menuju Pemahaman

Apakah ada orang beragama tanpa bertuhan? jawaban atas pertanyaan kritis ini bukan bersifat kebenaran fakta absolut, tetapi fenomenologis reflektif- kontemplatif dengan melihat kecenderungan kehidupan orang beragama, termasuk orang Kristen. Dari inilah muncul pertanyaan yang lebih mendalam, apa ukurannya kalau orang beragama tanpa bertuhan? Jawaban atas pertanyaan ini tidak bersifat kwantitatif religious tetapi kualitatif religious yang berujung pada perubahan hidup menjadi semakin berakar, bertumbuh dan berbuah baik bagi semesta, ini yang disebut dengan perubahan transformatif. Penjelasan atas tema ini didasarkan pada kebenaran Firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab, sehingga perlu dibaca, direnungkan dan akhirnya berfungsi menjadi pendorong kesadaran religious yang bertitik pijak pada kehendak Tuhan serta titik tuju untuk memuliakan Tuhan.

B. Memaknai Kecenderungan

Mengapa kehidupan beragama semakin semarak dengan segala bentuk ritual, tetapi orang yang hidup dalam kejahatan semaki banyak, Hal ini terlihat dari jumlah ruangan penjara yang tidak muat menampung para narapidana? Mengapa orang beragama semakin khusuk, tetapi perilakunya tidak bisa diteladani, sehingga mendatangkan cibiran dan hinaan dengan label pembohong, penipu dan membawa dampak negatif dalam kehidupan bersama. Kehidupan beragama tanpa bertuhan bagi orang kristen berarti kekristenan dimaknai dan dihayati hanya sebagai identitas budaya, rutinitas moral, atau sekedar kewajiban sosial, tanpa ada relasi pribadi yang benar dengan Tuhan. Sangat mungkin orang kriten tersebut rutin pergi ke gereja setiap hari minggu, terlibat aktif dalam berbagai pelayanan, bahkan memahami ilmu teologi. Namun hidupnya tidak mencerminkan kebenaran-Nya.

C. Tanda Beragama Tanpa Bertuhan

Berdasar kitab Wahyu 3 ayat 15 dan 16, Tuhan Yesus menegur dengan jelas, keras dan bernas kepada jemaat Laodikia yang suam-suam kuku, tidak dingin (tidak percaya) dan tidak panas (tidak bersemangat). Bila berpijak pada ayat ini, maka ada beberapa tanda orang beragama tanpa bertuhan : 1) ibadah sebagai kewajiban bukan sebagai kebutuhan untuk berjumpa dengan Tuhan melalui pujian , penyembahan serta menghidupi kebenaran Firman Tuhan, 2) hati yang jauh dan egois, ibadah hanya sebatas di bibir, tidak diresapi dalam hati, hidupnya untuk duniawi bukan untuk Tuhan. 3) ketaatan parsial, taat pada firman bila mudah dan menyenangkan hati bukan prinsip kebenaran-Nya. 4) hidup dalam kemunafikan, terlihat rohani dalam gereja , tetapi hidupnya penuh amarah dan kebencian. Akibat dari hidup beragama tanpa Tuhan, apapun prestasi rohaninya, kekayaan dan status keagamaannya, semuanya akan sia-sia. Maka, mari hidup dalam ketaatan. (YO-59).