Madu dan Racun
Yakobus 3:9-10 “Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk”
Petikan lagu di era 80-an yang dinyanyikan oleh Ari Wibowo (Bill & Brod) : …madu di tangan kananmu..racun di tangan kirimu…mana yang akan kau berikan padaku…… Memberikan gambaran bahwa dalam hidup ada dua kemungkinan sikap atau respon kita kepada orang lain. Sikap/respon yang kita berikan kepada sesama bisa berupa madu atau racun, hal ini dilihat dari dampaknya karena keduanya memiliki sifat yang kontradiktif. Madu bersifat menyehatkan, menyembuhkan, memberikan rasa manis sedangkan racun bersifat merusak, merugikan, bahkan menghancurkan. Sikap-sikap seperti apakah yang bisa dikategorikan sebagai madu atau racun.
- Sikap madu dalam perkataan diwujudkan bentuk motivasi, apresiasi, dan kejujuran karena hal ini akan menciptakan hubungan yang sehat, menyembuhkan hati yang luka dan membangun kepercayaan.
- Sikap racun dalam perkataan biasanya berupa hinaan / merendahkan, intimidasi, dan komunikasi yang manipulatif karena sikap ini akan merusak rasa percaya diri dan kesehatan mental, juga menghancurkan hubungan.
- Sikap madu dalam perbuatan dilakukan dengan mengasihi, empati, memaafkan, menolong sesama dan selalu optimis
- Sikap racun dalam perbuatan adalah iri/dengki, memfitnah, menyebarkan hoax melalui media sosial, dan bersikap pesimis (tanpa pengharapan)
Sebagai gereja/umat TUHAN, yang memiliki misi sebagai pewarta pengharapan, kita diingatkan melalui Yakobus 3:9-10 untuk menjaga perkataan, karena dari mulut kita bisa mendatangkan berkat tetapi juga bisa mendatangkan kutukan, dan semuanya itu tergantung pada pilihan mana yang kita ambil. Pun dalam sikap dan perbuatan kita, bisa mendatangkan berkat bagi orang lain tetapi di satu sisi bisa menjadi kutuk bagi sesama. Sikap “madu” yang bersifat membangun, memberikan pengharapan, menguatkan dan memulihkan relasi adalah pilihan yang harus kita ambil sebagai Gereja atau umat TUHAN, sehingga tercipta kerukunan dan kedamaian dalam kehidupan bersama. Karena seperti janji TUHAN dalam Mazmur 133, dimana dari tempat yang rukun, TUHAN akan memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya. Semoga di tengah kehidupan yang penuh gejolak, terjadinya banyak bencana, merebaknya berita-berita hoax di media sosial maka sebagai gereja kita diutus untuk membawa warta pengharapan, sehingga kita bisa saling menguatkan satu sama lain, membangun semangat yang penuh optimisme. Kiranya TUHAN memberkati. Amin. (AP)