Kasih Karunia Tuhan Yang Memulihkan
“Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang pindahan,……; dan umat-Ku tidak akan menjadi malu lagi untuk selama-lamanya.” (Yoel 2:25-26)
Kintsugi seorang ahli seni keramik Jepang, mengatakan bahwa, “Ketika sebuah pot keramik berharga pecah, mereka tidak membuangnya. Mereka menyambungkan kepingan yang pecah itu dengan emas murni. Hasilnya bagaimana? Pot itu tidak lagi mulus, tetapi garis-garis emasnya membuatnya jauh lebih indah dan lebih kuat, bernilai dari sebelumnya.”
Kenyataan hidup:
Jika kita refleksikan secara pribadi, setiap perjalanan dalam hidup kita tak semua berjalan mulus. Ketika kita telah membuat rencana jangka panjang begitu indah, ada hal-hal di luar kendali atau begitu saja bisa terjadi, “berubah menjadi retakan-retakan peristiwa.” Reaksi kita tentu bermacam-macam: bisa saja “syok” atau datar, karena saking seringnya kita mengalami kegagalan. Artinya kenyataan dalam hidup seringkali membuat kita mengalami kejutan-kejutan.
Lalu apa yang bisa kita perbuat?
Dalam kitab Yoel 2: 25-26 menjelaskan tentang krisis yang dialami umat Tuhan, mereka diserang hama belalang yang begitu luar biasa. Dalam Yoel pasal 1 digambarkan bahwa serbuan ini bukan sekedar gangguan kecil, melainkan kehancuran total:
- Ladang hancur, pohon anggur kering, gandum habis, bahkan hewan ternak merintih karena tidak ada rumput. Secara ekonomi dan pangan, mereka bangkrut total.
- Namun ketika mereka mau Kembali datang kepada Tuhan, maka Tuhan berjanji akan memulihkan keadaan mereka.
Firman Tuhan dalam kitab Yoel 2: 25-26 mengingatkan kepada kita bahwa Tuhan adalah Allah Pemulih. Pergumulan mungkin telah memakan waktu, menguras emosi, atau melukai hati (seperti belalang yang memakan hasil panen). Namun Tuhan tidak meninggalkan kita di titik hancur itu.
Kekuatan kita juga dari rasa syukur saat ini, kita tetap percaya pada penyertaan Tuhan, bahwa Tuhan akan memulihkan kita dan tidak akan membuat kita malu.
Pengampunan adalah fondasi untuk kita tetap survive menjalani kehidupan kita kini dan masa depan, dan kasih karunia Tuhanlah yang menjadi bagian kehidupan ke depan, dan bersyukur atas segalanya. Kita bersyukur bukan karena kita sempurna, tetapi karena Tuhan tetap menyertai dan memulihkan kita dengan “Ajaib”, justru di tengah ketidaksempurnaan kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.